PEMBAHARUAN (INOVASI) PENDIDIKAN
Makalah ini diajukan untuk memenuhi syarat
dan tugas mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan Dosen Pengampu Drs. Ismail, M.Pd
Disusun Oleh:
- Silvina Fariyanik (1152000297)
- Niken Aprita Hardanti (1152000314)
- Dian Pertiwi (1152000322)
- Nurul Hidayati (1152000323)
- Indah Riawaningsih (1152000329)
Semester: I PGSD / I H
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH
DASAR (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA
SUKOHARJO
2011 / 2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kami sehingga
makalah ini dapat selesai tanpa ada halangan sesuatu apapun.
Makalah
ini dibuat sebagai wujud rasa peduli kami pada dunia pendidikan dan sekaligus
melakukan apa yang menjadi tugas mahasiswa yang mengikuti
mata kuliah “Dasar-dasar Pendidikan”.
Dalam proses pendalaman materi dasar-dasar pendidikan
ini, tentunya kami mendapatkan
bimbingan, arahan dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang
dalam-dalamnya kami sampaikan kepada :
1.
Ayah bunda tercinta yang telah
mencurahkan kasih sayangnya kepada anak anaknya.sungguh segala darma
baktiku tidak layak disejajarkan dengan ketulusan mereka berdua,
2.
Dosen pembimbing bapak Drs. Ismail,
M.Pd,
3.
Teman-teman di kampus
Universitas Bangun Nusantara Sukoharjo terima kasih atas saran dan diskusinya,
4.
Kepada teman-teman dan adik-adik saya terima
kasih juga. Adanya
kalian memberi
semangat disetiap langkah kami,
5.
Dan kepada teman-teman yang tak mungkin bisa saya sebutkan satu
persatu saya
ucapkan terima
kasih sebanyak-banyaknya. Semoga Allah SWT membalas amal
perbuatan kita
semua dan mengampuni dosa-dosa yang sudah kita perbuat.
Penulis sadar
bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik konstruktif
dari semua pihak sangat kami harapkan.
Demikian makalah
ini dibuat semoga bermanfaat.
Sukoharjo,
November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul
…………………………………………………………………..... i
Kata Pengantar
……………………………………………………………………ii
Daftar Isi …………………………………………………………………………iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah …………………………………………….1
B. Rumusan
Masalah …………………………………………………...1
C. Tujuan
Penulisan Makalah ………………………………………….2
D. Manfaat
Penulisan Makalah ………………………………………...2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Inovasi Pendidikan ……………………………………...3
B. Masalah-masalah yang Menuntut Diadakannya Inovasi Pendidikan
3
C. Tujuan
Inovasi Pendidikan ………………………………………….4
D.
Inovasi Pendidikan dan Model
Pembelajaran di Indonesia …………4
E. Model
Inovasi E-learning dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan 9
F. Kendala-kendala
dalam Inovasi Pendidikan ………………………10
G.
Penolakan Terhadap Inovasi Pendidikan …………………………11
H.
Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi
Pendidikan 12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
………………………………………………………...14
B. Kritik
dan Saran ……………………………………………………14
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………………15
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh
keluarga, masyarakat dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,
dan atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan
peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup
secara tepat di masa yang akan datang .
Dalam kondisi zaman sekarang, yaitu zaman era
globalisasi, ilmu pengetahuan makin lama makin maju. Tidak mungkin dalam menuntut
suatu ilmu pengetahuan, sementara kualitas pendidikan masih dalam keadaan
stabil bahkan menurun. Gerak waktu yang dirasakan masyarakat makin cepat,
membuat dunia seakan menjadi sempit dan kecil. Begitu pula tidak seimbangnya
antara laju pertambahan penduduk di suatu negara dengan perolehan pendidikan
yang layak di suatu lembaga pendidikan, contohnya sekolah. Ditambah bagaimana
seorang rakyat yang tidak mampu memerlukan dana untuk mendapatkan pendidikan
yang layak guna menyeimbangkan dengan zaman era globalisasi agar tidak
berakibat fatal dan ketinggalan. Bagaimana mungkin seseorang ingin menggapai
cita-cita yang tinggi di masa depan sementara pendidikan yang ia peroleh di
masa lalu tidak sesuai dengan yang dipersiapkan. Oleh karena itu, dalam
menghadapi dunia global, perubahan memang perlu untuk dilakukan. Inilah yang
melatarbelakangi bagi kami untuk menyusun sebuah makalah mengenai masalah
inovasi pendidikan atau yang dikenal dengan pembaruan pendidikan.
- Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah
ini adalah:
1.
Apa yang dimaksud inovasi pendidikan?
2.
Apakah masalah-masalah yang menuntut diadakannya inovasi pendidikan?
3.
Apa tujuan
inovasi pendidikan?
4.
Bagaimana inovasi pendidikan dan
model pembelajaran di Indonesia?
5. Bagaimana
model inovasi e-learning dalam
meningkatkan mutu pendidikan?
6. Apa saja
kendala-kendala dalam inovasi pendidikan?
7.
Mengapa sering terjadi penolakan terhadap inovasi
pendidikan?
8.
Apa faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam inovasi
pendidikan?
- Tujuan Penulisan Makalah
Penulisan
makalah ini bertujuan antara lain untuk:
1.
Mengetahui definisi inovasi pendidikan dan mengkaji masalah-masalah yang menuntut diadakannya inovasi
pendidikan,
2.
Menjelaskan tentang tujuan pendidikan,
3.
Mendiskripsikan inovasi pendidikan dan model
pembelajaran di Indonesia, serta bentuk model e-lerning dalam meningkatkan mutu
pendidikan,
4.
Mengkaji berbagai kendala dalam inovasi pendidikan
5.
Mengetahui alasan terjadinya penolakan terhadap inovasi
pendidikan,
6.
Meningkatkan mutu dari faktor-faktor yang berperan
dalam inovasi
Pendidikan.
- Manfaat Penulisan Makalah
Penulisan
makalah ini memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
1.
Untuk
meningkatkan kesadaran akan pentingnya pembaruan atau inovasi di bidang
pendidikan,
2.
Sebagai
ulasan tentang model pembelajaran yang tengah berkembang di Indonesia,
3.
Berusaha
menerapkan model pembelajaran e-learning dalam rangka meningkatkan kemajuan di
bidang pendidikan
4.
Sebagai bekal bagi calon-calon guru agar lebih mudah
menerapkan pembaruan mengenai proses belajar mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian Inovasi Pendidikan
Inovasi atau innovation berasal dari kata to innovate yang
mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovasi
kadang pula diartikan sebagai penemuan, namun berbeda maknanya dengan penemuan
dalam arti discovery atau invention (invensi). Discovery mempunyai makna
penemuan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum
diketahui. Sedangkan invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil
kegiatan manusia.
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah
inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah
pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang
dirasakan atau diamati berbagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau
kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau
discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan
pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inovasi pendidikan merupakan pengenalan hal-hal baru dari sesuatu yang telah ada untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan dan untuk memecahkan masalah pendidikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inovasi pendidikan merupakan pengenalan hal-hal baru dari sesuatu yang telah ada untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan dan untuk memecahkan masalah pendidikan.
B. Masalah-masalah yang
Menuntut Diadakannya Inovasi Pendidikan
Adapun masalah-masalah yang menuntut diadakan inovasi
pendidikan di Indonesia,yaitu:
1.
Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan
teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan
kebudayaan bangsa Indonesia.
2. Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang dan fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
2. Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang dan fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
3.
Melonjaknya aspirasi (harapan dan tujuan untuk
keberhasilan pada masa yang akan datang) dan animo (hasrat dan keinginan yang
kuat) masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, sedangkan di satu
sisi kesempatan itu sangat terbatas sehingga terjadilah kompetensi atau
persaingan yang sangat ketat.
4.
Mutu pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang
belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5.
Kurang adanya relevansi antara pendidikan dan kebutuhan
masyarakat yang sedang membangun.
6.
Belum mekarnya alat organisasi yang efektif, serta
belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan
yang dituntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang.
C. Tujuan Inovasi Pendidikan
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas. Apabila dikaji, arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas. Apabila dikaji, arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
1. Mengejar
ketinggaian-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan
teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar
dengan kemajuan-kemajuan tersebut.
2. Mengusahakan
terselenggarakannya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga
negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan
Perguruan Tinggi.
Dengan sistem penyampaian yang baru, diharapkan peserta didik
menjadi manusia yang aktif, kreatif, dan terampil memecahkan masalahnya
sendiri.Tujuan jangka panjang yang hendak dicapai ialah terwujudnya manusia Indonesia
seutuhnya.
- Inovasi Pendidikan dan Model Pembelajaran di Indonesia
1.
Top Down Inovation
Inovasi model Top Down ini sengaja
diciptakan oleh atasan (pemerintah) sebagai usaha untuk
meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan
efisiensi dan sebaginya.
Inovasi seperti ini dilakukan dan
diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak,
menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik
untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.
Contohnya adalah yang dilakukan oleh Departemen
Pendidikan Nasinal selama ini. Seperti penerapan kurikulum, kebijakan
desentralisasi pendidikan dan lain-lain.
2.
Bottom Up Inovation
Yaitu model inovasi yang bersumber dan
hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu
pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru.
3.
Desentralisasi dan Demokratisasi Pendidikan
Perjalanan pendidikan nasional yang
panjang mencapai suatu masa yang demokratis jika tidak
dapat disebut liberal, ketika pada saat ini otonomisasi pendidikan melalui
berbagai instrument kebijakan, mulai UU No. 2 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, privatisasi perguruan tinggi
negeri dengan status baru yaitu Badan Hukum Milik Negara
(BHMN) melalui PP No. 60 tahun 2000, sampai UU No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan,
pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan bagi pusat maupun daerah.
Ada dua konsep desentralisasi pendidikan. Pertama, desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan.
Desentralisasi lebih kepada kebijakan pendidikan dan
aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Kedua, desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian
kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah.
Konsep pertama berkaitan dengan
desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke
daerah sebagai bagian demokratisasi. Konsep kedua lebih fokus mengenai pemberian kewenangan yang lebih besar kepada manajemen di tingkat
sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
4.
KTSP
KTSP yang dikenal dengan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kurikulum yang
bersifat operasional dan dilaksanakan dimasing-masing tingkat satuan pendidikan. Landasan hukum kurikulum ini yaitu Undang-undang Sikdiknas
No. 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
disusun oleh masing-masing sekolah dengan mengacu pada
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyerahan pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan pada tiap sekolah dengan
mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan
bertujuan agar kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat
kemampuan sekolah masing-masing.
5.
Quantum Learning
Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan
seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta
membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov,
pendidik berkebangsaan Bulgaria yang disebutnya suggestology (suggestopedia).
Pinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap
detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan
sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para
murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka
didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel.
Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.
Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning
sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengasumsikan
kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia.
6.
Contextual Teaching and Learning /CTL
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and
Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih
bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk
kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru
ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam kelas kontektual, guru lebih banyak berurusan
dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sehingga,
sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.
7.
Cooperative Learning
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah
satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem
pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja /
belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson
& Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab
individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar
mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau
membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok,
yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk
pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis yang menggunakan strategi
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa
anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami
materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum
selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
8.
Active Learning
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk
mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga
semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan
karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif
(active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik
agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
9.
Pakem
Pakem adalah singkatan dari
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif
dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian
rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun
pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru
tentang pengetahuan. Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar
yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan
adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan
perhatiannya secara penuh pada
belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Pembelajaran juga harus dilakukan secara efektif. Sehingga, siswa dapat menguasai materi setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Pembelajaran juga harus dilakukan secara efektif. Sehingga, siswa dapat menguasai materi setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
- Model Inovasi E-learning dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
1. Pengertian E-Learning
Banyak para ahli yang
mendefinisikan e-learning sesuai sudut pandangnya. Karena e-learning
kepanjangan dari elektronik learning, ada yang menafsirkan e-learning sebagai
bentuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi elektronik (radio, televisi,
film, komputer, internet, dll).
Secara lebih rinci Rosenberg (2001)
mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning, yaitu:
a.
E-learning bersifat
jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau
memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi.
Persyaratan ini sangatlah penting dalam e-learning, sehingga Rosenberg menyebutnya sebagai persyaratan
absolut.
b.
E-learning dikirimkan
kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet.
CD ROM, Web TV, Web Cell Phones, pagers, dan alat bantu digital personal
lainnya walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa dikolongkan
sebagai e-learning.
c.
E-learning terfokus
pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang
mengungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.
Uraian di atas menunjukan
bahwa sebagai dasar dari e-learning adalah pemanfaatan teknologi internet. Jadi,
e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam
format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat
digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional.
2. Pengembangan E-Learning
Pengembangan
model e-learning perlu dirancang secara cermat sesuai tujuan yang diinginkan. Menurut
Haughey(1998) ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran
berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced
course”.
a.
Web course adalah
penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak
diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi,
penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya
disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem
jarak jauh.
b.
Web centric course
adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap
muka (konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian
lagi melalui tatap muka Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada
siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya.
c.
Web enhanced course
adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran
yang dilakukan di kelas.
Untuk
dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002)
mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang e-learning, yaitu “sederhana,
personal, dan cepat”. Sistem yang demikian ini
bertujuan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu
yang ada, sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses
belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem e-learning-nya.
F. Kendala-kendala dalam Inovasi Pendidikan
Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha
inovasi pendidikan, antara lain:
1.
Konflik dan motivasi yang kurang
sehat,
2.
Lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga
mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan,
3.
Keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi,
4.
Penolakan dari sekelompok
tertentu atas hasil inovasi,
5.
Kurang adanya hubungan sosial dan publikasi.
(Subandiyah 1992:81)
G. Penolakan Terhadap Inovasi Pendidikan
Ada
beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para
pelaksanaan inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:
1.
Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses
perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide
baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan
merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak
sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.
2.
Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang
mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode
tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak
ingin diubah.
3.
Inovasi yang
baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya
Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh
guru dan siswa
4.
Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang
berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Dengan
demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan
perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya
wewenang untuk merubahnya.
5.
Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat
besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum
tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah
mereka.
H. Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam
Inovasi Pendidikan
Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas, faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan, dan lingkup social masyarakat.
Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas, faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan, dan lingkup social masyarakat.
1.
Guru
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan
merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Ada
beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan
materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi
siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan
unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan, serta pengalaman dan
keterampilan guru itu sendiri. Dengan demikian, maka dalam pembaharuan
pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai
dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi
keberhasilan suatu inovasi pendidikan.
Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pendidikan,
gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas
sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagi
motivator dan lain sebagainya. (Wright 1987)
2.
Siswa
Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam
proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses
belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan
intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam
diri mereka tanpa ada paksaan. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah
penting, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran
pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam
memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu
diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan
inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan
sebelumnya.
3.
Kurikulum
Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum
sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan
pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu, kurikulum memegang
peranan yang sama pentingnya dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa
adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka
inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu
sendiri.
4.
Fasilitas
Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan,
tidak bisa
diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan.
diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan.
5.
Lingkup Sosial
Masyarakat
Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang
tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa
dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat
secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam
pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya
mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta
didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan
tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan.
Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator
dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian inovasi pendidikan ialah suatu perubahan yang baru
dan bersifat kualitatif berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja
diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu
dalam pendidikan. Masalah-masalah yang menuntut diadakannya inovasi pendidikan
adalah Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, lajunya pertambahan
penduduk, meningkatnya pemikiran masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang
lebih baik, menurunnya kualitas pendidikan, serta belum mekarnya alat
organisasi yang efektif. Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan
efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas : sarana serta jumlah peserta
didik sebanyak-banyaknya, dengan hasil pendidikan sebesar-besarnya (menurut
kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunan), dengan
menggunakan sumber, tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang
sekecil-kecilnya. Pelaksanaan inovasi di Indonesia banyak sekali diantaranya
sistem Pamong, Kuliah Kerja Nyata, SMP terbuka, Radio Pendidikan, Televisi
Pendidikan dan lain-lain.
B.
Kritik
dan Saran
Demikianlah makalah yang kami berisikan tentang Inovasi
Pendidikan. Makalah inipun tak luput dari kesalahan dan kekurangan maupun
target yang ingin dicapai. Adapun kiranya terdapat kritik, saran maupun teguran
digunakan sebagai penunjang pada makalah ini. Sebelum dan sesudahnya kami
ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA


2 komentar:
Thanks ya sob sudah berbagi ilmu .............................
bisnistiket.co.id
iya, sama2 ivan verys
Posting Komentar