Indah Riawaningsih

Foto saya
Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
Kejarlah cita-citamu setinggi langit. Tetap optimis, pantang menyerah.

Minggu, 04 Agustus 2013

SEMESTER I-H PGSD UNIVET MAKUL DASAR-DASAR PENDIDIKAN Inovasi Pendidikan



PEMBAHARUAN (INOVASI) PENDIDIKAN
 Makalah ini diajukan untuk memenuhi syarat dan tugas mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan Dosen Pengampu Drs. Ismail, M.Pd

Disusun Oleh:
  1. Silvina Fariyanik                   (1152000297)
  2. Niken Aprita Hardanti         (1152000314)
  3. Dian Pertiwi                           (1152000322)
  4. Nurul Hidayati                      (1152000323)
  5. Indah Riawaningsih              (1152000329)


Semester: I PGSD / I H



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN  DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA
SUKOHARJO
2011 / 2012

KATA PENGANTAR



Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kami  sehingga makalah ini dapat selesai tanpa ada halangan sesuatu apapun.
Makalah ini dibuat sebagai wujud rasa peduli kami pada dunia pendidikan dan sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas mahasiswa yang mengikuti mata kuliah “Dasar-dasar Pendidikan”.
Dalam proses pendalaman materi dasar-dasar pendidikan ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang dalam-dalamnya kami sampaikan kepada :
1.      Ayah bunda tercinta yang telah mencurahkan kasih sayangnya kepada anak anaknya.sungguh segala darma baktiku tidak layak disejajarkan dengan ketulusan mereka berdua,
2.      Dosen pembimbing bapak Drs. Ismail, M.Pd,
3.      Teman-teman di kampus Universitas Bangun Nusantara Sukoharjo terima kasih atas saran dan diskusinya,
4.      Kepada teman-teman dan adik-adik saya terima kasih juga. Adanya
kalian memberi semangat disetiap langkah kami,
5.      Dan kepada teman-teman yang tak mungkin bisa saya sebutkan satu persatu saya
ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Semoga Allah SWT membalas amal
perbuatan kita semua dan mengampuni dosa-dosa yang sudah kita perbuat.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik konstruktif dari semua pihak sangat kami harapkan.
Demikian makalah ini dibuat semoga bermanfaat.

Sukoharjo, November 2011

Penulis 

DAFTAR ISI


Halaman Judul …………………………………………………………………..... i
Kata Pengantar ……………………………………………………………………ii
Daftar Isi …………………………………………………………………………iii

BAB I    PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah …………………………………………….1
B.    Rumusan Masalah …………………………………………………...1
C.    Tujuan Penulisan Makalah ………………………………………….2
D.    Manfaat Penulisan Makalah ………………………………………...2
BAB II   PEMBAHASAN
A.    Pengertian Inovasi Pendidikan ……………………………………...3
B.    Masalah-masalah yang Menuntut Diadakannya Inovasi Pendidikan  3
C.    Tujuan Inovasi Pendidikan ………………………………………….4
D.    Inovasi Pendidikan dan Model Pembelajaran di Indonesia …………4
E.     Model Inovasi E-learning dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan 9
F.     Kendala-kendala dalam Inovasi Pendidikan ………………………10
G.    Penolakan Terhadap Inovasi Pendidikan …………………………11
H.    Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi Pendidikan 12

BAB III  PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………...14
B.    Kritik dan Saran ……………………………………………………14
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………15

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang .
Dalam kondisi zaman sekarang, yaitu zaman era globalisasi, ilmu pengetahuan makin lama makin maju. Tidak mungkin dalam menuntut suatu ilmu pengetahuan, sementara kualitas pendidikan masih dalam keadaan stabil bahkan menurun. Gerak waktu yang dirasakan masyarakat makin cepat, membuat dunia seakan menjadi sempit dan kecil. Begitu pula tidak seimbangnya antara laju pertambahan penduduk di suatu negara dengan perolehan pendidikan yang layak di suatu lembaga pendidikan, contohnya sekolah. Ditambah bagaimana seorang rakyat yang tidak mampu memerlukan dana untuk mendapatkan pendidikan yang layak guna menyeimbangkan dengan zaman era globalisasi agar tidak berakibat fatal dan ketinggalan. Bagaimana mungkin seseorang ingin menggapai cita-cita yang tinggi di masa depan sementara pendidikan yang ia peroleh di masa lalu tidak sesuai dengan yang dipersiapkan. Oleh karena itu, dalam menghadapi dunia global, perubahan memang perlu untuk dilakukan. Inilah yang melatarbelakangi bagi kami untuk menyusun sebuah makalah mengenai masalah inovasi pendidikan atau yang dikenal dengan pembaruan pendidikan.

  1. Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud inovasi pendidikan?
2.      Apakah masalah-masalah yang menuntut diadakannya inovasi pendidikan?
3.      Apa tujuan inovasi pendidikan?
4.      Bagaimana inovasi pendidikan dan model pembelajaran di Indonesia?
5.      Bagaimana model inovasi e-learning dalam meningkatkan mutu pendidikan?
6.      Apa saja kendala-kendala dalam inovasi pendidikan?
7.      Mengapa sering terjadi penolakan terhadap inovasi pendidikan?
8.      Apa faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan?

  1. Tujuan Penulisan Makalah
Penulisan makalah ini bertujuan antara lain untuk:
1.      Mengetahui definisi inovasi pendidikan dan mengkaji masalah-masalah yang menuntut diadakannya inovasi pendidikan,
2.      Menjelaskan tentang tujuan pendidikan,
3.      Mendiskripsikan inovasi pendidikan dan model pembelajaran di Indonesia, serta bentuk model e-lerning dalam meningkatkan mutu pendidikan,
4.      Mengkaji berbagai kendala dalam inovasi pendidikan
5.      Mengetahui alasan terjadinya penolakan terhadap inovasi pendidikan,
6.      Meningkatkan mutu dari faktor-faktor yang berperan dalam inovasi
Pendidikan.

  1. Manfaat Penulisan Makalah
Penulisan makalah ini memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
1.      Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pembaruan atau inovasi di bidang pendidikan,
2.      Sebagai ulasan tentang model pembelajaran yang tengah berkembang di Indonesia,
3.      Berusaha menerapkan model pembelajaran e-learning dalam rangka meningkatkan kemajuan di bidang pendidikan
4.      Sebagai bekal bagi calon-calon guru agar lebih mudah menerapkan pembaruan mengenai proses belajar mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian Inovasi Pendidikan
Inovasi atau innovation berasal dari kata to innovate yang mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovasi kadang pula diartikan sebagai penemuan, namun berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti discovery atau invention (invensi). Discovery mempunyai makna penemuan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui. Sedangkan invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kegiatan manusia.
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati berbagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan. 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inovasi pendidikan merupakan pengenalan hal-hal baru dari sesuatu yang telah ada untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan dan untuk memecahkan masalah pendidikan.

B.    Masalah-masalah yang Menuntut Diadakannya Inovasi Pendidikan
Adapun masalah-masalah yang menuntut diadakan inovasi pendidikan di Indonesia,yaitu:
1.      Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan bangsa Indonesia. 
2.      Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang dan fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
3.      Melonjaknya aspirasi (harapan dan tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang) dan animo (hasrat dan keinginan yang kuat) masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, sedangkan di satu sisi kesempatan itu sangat terbatas sehingga terjadilah kompetensi atau persaingan yang sangat ketat.
4.      Mutu pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5.      Kurang adanya relevansi antara pendidikan dan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun.
6.      Belum mekarnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan yang dituntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang.

C.    Tujuan Inovasi Pendidikan
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas. Apabila dikaji, arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
1.      Mengejar ketinggaian-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan-kemajuan tersebut.
2.      Mengusahakan terselenggarakannya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.
Dengan sistem penyampaian yang baru, diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif, dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.Tujuan jangka panjang yang hendak dicapai ialah terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya.

  1. Inovasi Pendidikan dan Model Pembelajaran di Indonesia
1.      Top Down Inovation
Inovasi model Top Down ini sengaja diciptakan oleh atasan (pemerintah) sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebaginya.
Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak  pelaksanaannya.
Contohnya adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Seperti penerapan kurikulum, kebijakan desentralisasi pendidikan dan lain-lain.
2.      Bottom Up Inovation
Yaitu model inovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru.
3.      Desentralisasi dan Demokratisasi Pendidikan
Perjalanan pendidikan nasional yang panjang mencapai suatu masa yang demokratis jika tidak dapat disebut liberal, ketika pada saat ini otonomisasi pendidikan melalui berbagai instrument kebijakan, mulai UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, privatisasi perguruan tinggi negeri dengan status baru yaitu Badan Hukum Milik Negara (BHMN) melalui PP No. 60 tahun 2000, sampai UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan, pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan bagi pusat maupun daerah.
Ada dua konsep desentralisasi pendidikan. Pertama, desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan. Desentralisasi lebih kepada kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Kedua, desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah.
Konsep pertama berkaitan dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah sebagai bagian demokratisasi. Konsep kedua lebih fokus mengenai pemberian kewenangan yang lebih besar kepada manajemen di tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
4.      KTSP
KTSP yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kurikulum yang bersifat operasional dan dilaksanakan dimasing-masing tingkat satuan pendidikan. Landasan hukum kurikulum ini yaitu Undang-undang Sikdiknas No. 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun oleh masing-masing sekolah dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyerahan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tiap sekolah dengan mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan bertujuan agar kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kemampuan sekolah masing-masing. 
5.      Quantum Learning
Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Pinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.
Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengasumsikan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia.
6.      Contextual Teaching and Learning /CTL
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam kelas kontektual, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sehingga, sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.
7.      Cooperative Learning
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja / belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis yang menggunakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
8.      Active Learning
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
9.      Pakem
Pakem adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada
belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Pembelajaran juga harus dilakukan secara efektif. Sehingga, siswa dapat menguasai materi setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai.

  1. Model Inovasi E-learning dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
1.      Pengertian E-Learning
Banyak para ahli yang mendefinisikan e-learning sesuai sudut pandangnya. Karena e-learning kepanjangan dari elektronik learning, ada yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi elektronik (radio, televisi, film, komputer, internet, dll).
Secara lebih rinci Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning, yaitu:
a.       E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangatlah penting dalam e-learning, sehingga Rosenberg menyebutnya sebagai persyaratan absolut.
b.      E-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD ROM, Web TV, Web Cell Phones, pagers, dan alat bantu digital personal lainnya walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa dikolongkan sebagai e-learning.
c.       E-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang mengungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.
Uraian di atas menunjukan bahwa sebagai dasar dari e-learning adalah pemanfaatan teknologi internet. Jadi, e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional.

2.      Pengembangan E-Learning
Pengembangan model e-learning perlu dirancang secara cermat sesuai tujuan yang diinginkan. Menurut Haughey(1998) ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course”.
a.       Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
b.      Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya.
c.       Web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas.
Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang e-learning, yaitu “sederhana, personal, dan cepat”. Sistem yang demikian ini  bertujuan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem e-learning-nya.

F.     Kendala-kendala dalam Inovasi Pendidikan
Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan, antara lain:
1.      Konflik dan motivasi yang kurang sehat,
2.      Lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan,
3.      Keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi,
4.      Penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi,
5.      Kurang adanya hubungan sosial dan publikasi. (Subandiyah 1992:81)

G.    Penolakan Terhadap Inovasi Pendidikan
Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksanaan inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:
1.      Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.
2.      Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah.
3.       Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa
4.      Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
5.      Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.

H.    Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi Pendidikan
Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas, faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan, dan lingkup social masyarakat.
1.      Guru
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan, serta pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri. Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan.
Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagi motivator dan lain sebagainya. (Wright 1987)
2.      Siswa
Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah penting, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.
3.      Kurikulum
Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu, kurikulum memegang peranan yang sama pentingnya dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri.
4.      Fasilitas
Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa
diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan.
5.       Lingkup Sosial Masyarakat
Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pengertian inovasi pendidikan ialah suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan. Masalah-masalah yang menuntut diadakannya inovasi pendidikan adalah Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, lajunya pertambahan penduduk, meningkatnya pemikiran masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, menurunnya kualitas pendidikan, serta belum mekarnya alat organisasi yang efektif. Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas : sarana serta jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya, dengan hasil pendidikan sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunan), dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya. Pelaksanaan inovasi di Indonesia banyak sekali diantaranya sistem Pamong, Kuliah Kerja Nyata, SMP terbuka, Radio Pendidikan, Televisi Pendidikan dan lain-lain.
B.     Kritik dan Saran
Demikianlah makalah yang kami berisikan tentang Inovasi Pendidikan. Makalah inipun tak luput dari kesalahan dan kekurangan maupun target yang ingin dicapai. Adapun kiranya terdapat kritik, saran maupun teguran digunakan sebagai penunjang pada makalah ini. Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terimakasih.








DAFTAR PUSTAKA




2 komentar:

Unknown mengatakan...

Thanks ya sob sudah berbagi ilmu .............................



bisnistiket.co.id

Indah Riawaningsih mengatakan...

iya, sama2 ivan verys